BONDAN DAN TUKANG OJEK (XXX)










oleh: Oesman Ratmadja

Itu sebabnya, Sabar tak mau langsung menerima bingkisan yang disodorkan oleh kedua karyawati kantin rumah sakit
Pak, saya hanya melaksanakan amanah. Tadi, pak Bondan yang saat ini masih ngopi di kantin, memanggil kita berdua. Lalu, menanyakan, apakah bingkisan yang terpajang di kantin sebatas untuk pajangan atau bisa dibeli. Setelah saya jelaskan bisa dibeli oleh siapa saja, beliau minta tolong agar kami segera mengantar bingkisan ini ke pak Sabar.
Beliau hanya bilang, isteri bapak dirawat di ruang nomor 313. Kata pak Bondan, kalau bapak tanya beliau di mana, saya harus bilang, beliau masih di kantin dan sedang asyik ngopi“
Bang…kenapa malah bengong seperti itu? Abang nggak lihat, mereka kelihatan capek karena sudah bawa bingkisan itu sejak dari lantai satu?”
Mestinya, tanpa diingatkan siapa pun-termasuk isterinya, Sabar bergegas menerima bingkisan yang memang dipersembahkan untuk Sabar dan isterinya. Terlebih, sudah dijelaskan pemberinya: pak Bondan. Hanya, tak seorang pun yang tahu, mengapa, Sabar, malah langsung ke sudut ruangan dan membuat semua orang di ruang nomor 313, mendadak jadi terkejut.
Baru kali ini, mereka – termasuk isterinya, melihat seseorang, yang diberi hadiah bingkisan untuk isterinya yang melahirkan, malah menangis. Meraung-raung.
Bang…Bang Sabar, Istighfar, bang. Istighfar!”
Dari ranjangnya, Ariyani yang tak boleh banyak bergerak, hanya bisa meminta dan mengingatkan agar suaminya beristighfar.
Kedua karyawan kantin, yang juga kaget, segera meletakkan bingkisan di bawah ranjang Ariyani, dan mereka tak berani menghampiri Sabar, yang sudah di sudut ruangan, berdiri dengan tubuh merapat ke dinding, dan terus menangis sesenggukan.
Pasien lain yang juga sedang dibesuk, makin kaget. Hanya tak bisa berbuat banyak selain memperhatikan bersama tanda tanya yang bersemaam di hati mereka. Mereka yang tetap tidak beranjak dari tempat masing-masing, hanya bisa saling pandang. Seolah olah saling mengataan, mereka melihat secara langsung dan sesuatu itu adalah keanehan tapi nyata. Kenyataan yang aneh atau keanehan yang nyata
Pak..apa kami salah?”
Karyawan kantin yang tadi membawa bingkisan peralatan bayi, memberanikan diri untuk bertanya.
Mendengar pertanyaan, Sabar yang terus menangis bak bocah, menjawab.
Kalian sama sekali tidak salah. Cuma, kalian tidak tahu, isteri saya pun tidak tahu, kalau hari ini, saya mendapat begitu banyak limpahan karunia dari Tuhan. Hari ini, saya memang harus menangis dan hanya bisa menangis. Sebab, sepanjang hidup saya, baru hari ini, Allah memper temukan saya dengan hambanya yang berhati mulia. Dia itu orangnya ikhlas, tau.
Saya tak pernah meminta apa pun, ia juste ru terus memberi. Memberi..dan lagi-lagi memberi. Dan, bingkisan ini, adalah pemberiannya yang kesekian kali. Kalian boleh kaget, boleh tercengang dan boleh menuduh saya gila, karena di tempat ini, saya memang sedang menangis “
Bang…istighfar, bang. Istighfar. Abang sudah mengganggu tata tertib di ruang rawat “
Kamu tidak usah suruh-suruh saya. Saya tak bisa tidak menangis, Ani. Sejak tadi, saya terus menangis. Hanya, kamu tidak tahu. Tidak pernah mengerti dan tidak paham. Saya bawa makanan pemberian, boss, kamu malah kesal, malah suruh saya kalau dapat duit harus irit. Saya lihatkan isi tas pinggang, kamu malah curiga sama saya.
Mestinya, kamu tanya saya dengan cara baik-baik, lalu, kamu beri saya kesempatan untuk menjelaskan. Tapi, kamu cuma bisa memperlihatkan rasa takut. Kuatir tidak bisa bayar biaya perawatan rumah sakit. Padahal, saya sudah bilang, Allah itu Maha Besar, Maha Memberi Rezeki. Kenapa kamu malah tidak mengerti? Huhuhuhuhuhu....“
Pak, maaf…kami harus bertugas. Kami bedua, permisi dulu, yaa ?”
Karyawan kantin yang membawa bingkisan buah-buahan, membe ranikan diri untuk menyela tangisan Sabar. Se bab, ia dan temannya tak mungkin bisa berlama lama di ruang itu. Bagaimana pun, meraka lebih berpikir harus segera kembali ke kantin untuk bekerja, timbang berlama-lama dan akibatnya malah kena tegur atasan.
Sabar yang sejak tadi menghadap ke din ding, menoleh. Sambil terus menangis, ia mena tap kedua karyawan kantin. Sesaat kemudian, ia bergegas membuka resleting tas pinggangnya. Mengambil selembar ratusan ribu rupiah.
Kedua karyawan kantin rumah sakit, ma kin bingung, karena Sabar yang terus menangis menyodorkan uang ke mereka. Isteri Sabar, juga heran, karena suaminya memberi selembar ra tusan ribu rupiah, tapi ia tak berani mencegah. Dan keheranan, menjalar ke semua orang yang ada dalam ruang rawat
Kalian tidak boleh pergi, kecuali setelah menerima uang ini “
Ta..tapi..pak Sabar. Ta..tadi, pak Bondan sudah memberi kami uang tip “
Iya, pak. Tolong ijinkan kami kembali melaksanakan tugas “
Sabar yang masih sesenggukan, mengham piri dua karyawan, yang tak tahu harus berbuat apa. Keduanya tercengang, karena dengan gerakan cepat, Sabar yang masih sesenggukan, memasukkan uang di tangannya ke saku pakaian salah seorang karyawan kantin.
Terima kasih, kalian telah berbuat baik untuk saya. Silahkan kembali bekerja “
Setelah saling pandang, keduanya segera meninggalkan ruang nomor 313. Sabar kembali ke tempat semula. Terus menangis.
Bang…saya sudah ngerti. Saya sudah paham, kenapa abang nangis. Tolong jangan na ngis lagi, bang. Bu..bapak..semua yang ada di si ni, maafkan saya dan suami saya, ya ?”
Iyaa..nggak apa-apa, bu. Tadi, kita me mang kaget. Sekarang, sudah nggak apa-apa, kok. Toh, cuma nangis. Terharu, memang mesti nangis. Itu baru logis. Kalau marah-marah, baru kita pada gerah. Iya, kan, bu ?
Sabar, baru sadar, kalau ia baru saja bikin onar. Tapi, ia tidak malu buat minta maaf.
Dua satpam, yang muncul mendadak, celi ngak-celinguk. Tentu saja bingung. Mereka baru saja dapat laporan ada yang bikin gaduh, nyatanya, ruang nomor 313, sangat kondusif. Sejenak, mereka saling tatap. Setelah itu, dengan cepat dan tanpa pamit, bergegas meninggalkan ruangan

Bersambung..........

0 Response to "BONDAN DAN TUKANG OJEK (XXX)"