BONDAN DAN TUKANG OJEK (XIII)


oleh:Oesman Ratmadja


Tapi Johan punya banyak akal.
Setelah sejenak berpikir, dia bangkit dari kursinya. Mendekat. Menatap tante Susilawati yang bibir seksinya masih cemberut. Tangan kanan Johan meraih pinggang Susilawati. Tangan kirinya menyibak daster tipis yang membalut tubuh tante Susi. Menyen tuh sela-sela ujung paha. Dan terus bergerak liar.
Susilawati terdiam. Matanya terpejam. Johan merapatkan bibirnya ke leher Susilawati yang jenjang. Ia mengulurkan lidahnya. Menjilati leher putih dengan desah nafas liarnya.
“ Johan…kamu jangan nakal. Saya nggak kuat,”
Emosi Susilawati, mendadak luluh.
Susilawati yang matanya terpejam, melenguh Mengeluh.
Keluhan senang. Perlahan, Johan bergerak. Ke sofa panjang, yang mudah dicapai karena memang sangat dekat. Ia membaringkan tante Susi yang sama sekali tak meronta kecuali melenguh, ke sofa panjang yang empuk. Jari-jemari tangan kanannya terus menjelajah, ke punggung dan membuka tali beha. Jari lainya, terus mengelus bagian tubuh yang menggoyahkan. Perlahan, jari jemari itu menarik celana dalam warna pink
“ Jangan di sini, Johan “
“Kenapa?Bukankah di sini, juga sama “
“ Nanti, ketahuan Si Ati dan mang Dudung “
Susilawati kuatir, tapi tangannya mulai meraba dan terus merayap ke sela-sela celana pendek Johan. Tangannya yang lain, merambat di dada Johan yang berbulu lebat. Johan tak diam Ia terus “menerkam” dengan cumbuan yang membuat Susilawati blingsatan tak keruan
“ Tak perlu kuatir. Yang penting, saya bisa membuat tante tidak kesal lagi “
“ Saya sudah melupakan “
“ Terima kasih,” desis Johan.
Johan menarik perlahan daster tipis yang masih melekat ditubuh Susilawati. Sampai akhirnya lepas. Lalu melempar begitu saja. Tante Susi memelorotkan celana pendek Johan. Susilawati yang sudah terbaring di sofa panjang, menatap Johan sambil mengurai senyumannya yang aduhai.
Johan melakukan hal yang sama. Sambil terus menatap, tangan Johan meraih kedua paha Susi. Menggesernya perlahan. Ke bagian kiri dan kesebelah kanan.
Perlahan, Johan menurunkan tubuh. Susilawati yang kembali memejamkan mata, memasukkan benda yang sejak tadi digenggem dan dielus-elusnya. Perlahan, Johan menurunkan tubuhnya. Desah nafas Susilawati, beru bah. Johan berbisik. Minta Susilawati memenuhi janjinya
“ Yaa, sayang. Pasti tante penuhi. Sekarang, tolong cepat bawa tante ke ujung dunia. Terbangkan agar secepatnya sampai ke surga”
Johan tersenyum. Ia tahu apa yang kemudian harus segera ia lakukan, agar Tante Susi bisa menggelinjang dengan lincah, bersama helaan nafasnya yang tak beraturan. Nafas yang menderu-deru dibelenggu nafsu

oooooooooooooooo

BARU kali ini pak Sadewa merasa berada dalam posisi bingung. Biasanya, setelah dapat kabar dari mbok Sinem, ia tak pernah bi ngung. Terlebih dibingungkan oleh keadaan. Sebab, ia selalu bisa dan leluasa mengkondisikan keadaan Setiap mengatakan tak bisa datang, ia langsung transfer. Selesai mentransfer uang yang bisa dilakukan kapan dan dimana saja, ia sudah bisa kembali fokus ke urusan bisnisnya. Ia tak pernah bertanya, apakah mbok Sinem benar atau dusta atau hanya mengada-ada
Kali ini, pak Sadewa justeru merasa bingung. Terlebih, ia sedang di mobil, membawa, menjaga, dan mengantar Marina, isteri ketiganya. Bukan kehotel atau tempat wisata. Dan bukan untuk bersenang-senang Tapi ke rumah sakit bersalin terdekat. Ia bingung karena sejak berangkat dari rumah, Marina terus mengeluh.


Bersambung

0 Response to "BONDAN DAN TUKANG OJEK (XIII)"