BONDAN DAN TUKANG OJEK (V)

Oleh : Oesman Ratmadja




“ Jangan pakai tapi, dong, mbok ?” Sergah Doni sambil kembali mencolek bahu mbok Si nem, dan melirik ke rekan rekannya. Doni meng isyaratkan ke teman lainnya, kalau ia akan berhasil membujuk mbok Sinem. Tentu saja dengan sangat yakin. Heri Gondrong dan yang lainnya membalas memberi isyarat sambil tersenyum.
“ Harus pakai, mas. Soalnya, yang bisa saya lakukan, cuma sebatas menyuguhkan minuman atau makanan. Saya tak bisa memanggil dan meminta den Bondan ke luar dari kamarnya “
“ Nggak apa-apa, mbok. Toh, kita tak hanya bersedia tapi juga bisa masuk ke kamarnya. Kan, mbok tahu kita juga biasa kumpul dan nginap di kamar Bondan ?” Doni semakin optimis
“ Iya, mbok. Lagi pula, si mbok nggak usah repot-repot menjamu kita. Kita, kan, kalau mau minum atau mau makan, bisa ambil sendiri. Lagipula, kita tidak mau ngerepotin si mbok, kok, “ Gito ikut mencoba meyakinkan
“Yaa, silahkan saja mas semua masuk ke dalam. Cuma, jangan harap bisa ketemu den Bondan. “
“Jangan gitu, dong, mbok. Apa sih, susah nya bilang kalau kita datang dan mau bezuk Bondan di kamarnya? “
“ Kalau sebatas bilang begitu sama den Bondan, tak masalah, mas. Cuma, bagaimana bilang nya jika sejak sebulan lalu, den Bondan dibawa dan dirawat di rumah sakit di Singapura “
“ Kita kok, jadi nggak ngerti, mbok ?”
“ Iya, mbok. Apa, sih, maksud si Mbok ?”
“Mas…dengar, yaa. Sebenarnya, den Bondan tuh sudah sejak lama mengidap penyakit gawat. Tapi, baru ketahuan belakangan. Dua bulan lalu, saat den Bondan cek-ap, malah diminta masuk ruang inap Rumah Sakit Pertamina.
Dua minggu dirawat di sana sama sekali tak ada perubahan. Karena tak juga sembuh, majikan saya, membawa den Bondan berobat ke Singapura. Kalau memang mau besuk, yaa, mas harus berangkat ke Singapura. “
“ Oh alaaaah, si mbok ini piyee, toh. Mestinya, bilang dari pertama kali kita datang, dong. Jadi, kita nggak penasaran. Nggak kecewa, “ Sentak Marbun
Tapi ia tak bisa ngejitak mbok Sinem, meski kepingin banget ngejitak sang pembantu tua yang dianggapnya paling menyebalkan
“ Mbok..mbok… kalau ada duit, daripada buat besuk Bondan yang dirawat di Singapura, kan lebih baik kita beliin minuman “ Doni mulai kelihatan aslinya, nyeleneh.
“ Iya, mbok. Teler tuh lebih enak, tau “ Kata Gito, yang langsung membalikkan tubuh dan ninggalin si Mbok.
“ Mbok, lain kali, langsung kabarkan. Jangan ajak kita ngider ngalor ngidul nggak karuan. Ngerti?” Heri Gondrong bukan tidak emosi. Ta pi, dia hanya mampu memberi peringatan
Mbok Sinem sengaja tak menjawab. Ia tak mau kasih komentar macam-macam. Takut malah akhirnya ketahuan. Makanya, mbok Sinem tak mau menahan kepergiaan teman-teman Bon dan yang pergi tanpa pamitan.
Ia tetap lugu dan bersikap seperti orang nde so yang begonia tidak dibuat-buat. Mbok Sinem memperhatikan kepergian tamunya sambil terus melongo, sampai mereka masuk ke mobil dan menghilang
Mbok Sinem segera masuk ke dalam rumah dan melaporkan hasil kerjanya. Bondan langsung ngakak. Mbok Sinem ikutan senang. Cuma, tidak berani ngakak. Hanya berani sebatas senyum.
“Den,si mbok mau pamit ke dapur dulu, den “
“Astaghfirullah Hal Adziem. Sorri, yaa, mbok. Saya jadi lupa sama si mbok. Oh iya, terima kasih yaa mbok,” Bondan jadi merasa nggak enak sama si mbok.
Lebih nggak enak jika lupa ngasih bonus. Bondan segera ambil dompet. Mbok Sinem, makin bisa tersenyum melihat tujuh lembar ratusan ribu rupiah, disodorkan ke arahnya.
“ Besok saya tambahin, supaya jadi genap sejuta “
“ Segini aja lebih dari cukup, den “
“ Pokoknya, besok harus saya tambah. Kalau saya lupa, si mbok harus ingetin saya. Oke ?”
“ Oke, den. Trima kasih “

Bersambung........

0 Response to "BONDAN DAN TUKANG OJEK (V)"