BONDAN DAN TUKANG OJEK (2)

oleh: Oesman Ratmadja



Jiwa yang tak pernah dibasahi oleh perhatian, kasih sayang dan cinta. Jiwa yang hanya di hidupkan, dan digerakkan oleh materi, membuat Bondan tak mampu menjadi seseorang yang berjiwa atau berhati. Jiwanya malah selalu lunglai dalam belai kemewahan. Hatinya cenderung rapuh, oleh materi yang berlebihan.
Apa yang harus kulakukan agar jiwa tentram, batin tenang tapi aku tetap leluasa mereguk nikmat yang memuaskan, dan buahnya adalah kebahagiaan yang hakiki seperti yang kumaui?
Bondan nyaris senewen.Tiap kali bergulat dan bergelut dengan batinnya, ia merasa tersiksa. Tersiksa karena betapa sulitnya meninggalkan kebiasaan buruknya. Begitu mudah ia melakukan Tapi, begitu sulitnya, saat ingin meninggalkan. Apakah karena aku tak biasa berbuat baik, lalu kekuatan buruk dalam diri ini malah mampu memelorotkan hasrat berbuat baik?
Bondan tak tahu harus bicara dan bertanya pada siapa. Ibunya, entah di mana. Sejak rahasia ayahnya terkuak, ibunya memang tak minta cerai. Tapi, juga menolak ketika ayahnya bersedia dan siap menceraikan.
Ibunya memilih tetap terikat dalam tali perkawinan, dan tinggal bersama Bondan. Tapi, bukan untuk mengurus Bondan. Saat itu, Bondan hanya dimanfaatkan agar kebutuhan hidup ibu nya yang memang materialistis, selalu dan tetap terpenuhi
Status orangtuanya memang tetap sebagai suami-isteri. Secara fisik, mereka tidak bercerai. Tapi batin, mereka sudah terpisah. Sejak lama. Sesekali, ayahnya memang datang. Setelah berte mu sesaat dengan Bondan, usai mensuplai uang, bergegas pulang, hilang. Ayahnya, seperti tak pe duli, bagaimana Bondan tumbuh dan berkembang.
Malah, ketika ayahnya tahu, ibunya bermesraan dengan lelaki lain, pak Sadewa tidak marah. Ayahnya juga hanya tersenyum, saat tak lama berselang, ia mengetahui isterinya sudah jarang pulang. Pak Sadewa hanya berpesan, agar mbok Sinem merawat Bondan dengan baik, benar dan dengan segenap ketulusan. Ayahnya beralasan, ia tak mungkin bisa mengajak Bondan tinggal ber sama di rumah salah satu dari dua orang isteri lainnya
Meski begitu, ayahnya tetap memenuhi berbagai kebutuhan Bondan dan ibunya. Tapi, ayahnya sama sekali tak mempersoalkan, di mana sebenarnya ibu Bondan, apa yang dilakukan dan siapa lelaki yang mendampinginya.
Tapi, akhirnya Bondan tahu, mengapa ayahnya, malah menikah dengan dua perempuan lain. Menurut mbok Sinem, saat ekonomi ayahnya masih morat-marit, ibunya lebih sering menjerit. Kerap kecewa, marah, dan tak henti-hentinya mengecilkan dan menyudutkan suaminya. Ayah Bondan yang hanya sanggup membelai isterinya dengan kemiskinan, tak pernah dihargai terlebih dihormati
Ibunya sering memaki, mencibir, mengecilkan.menghina dan menyebut ayahnya sebagai lelaki yang hanya mampu memberi kepuasan batiniah. Sama sekali tak sanggup memenuhi ke puasaan lahiriah, yang juga sangat didambakan dan diinginkan ibunya. Jika saat seperti itu Bondan belum lahir, mungkin sudah lama mereka bercerai.
Itu sebabnya ayahnya menikah dengan pe rempuan lain. Hanya, si mbok Sinem sama sekali tak mengerti, mengapa sampai menikah dengan dua perempuan. Jika hanya dengan satu perempuan, mungkin karena ingin ada yang mengurus, merawat, menyayangi, memperhatikan dan masih punya tempat yang nyaman untuk saling berbagi. Saling menautkan mimpi
Ingin dipijat isteri karena capek atau lelah usai mencari nafkah. Ingin dimanja. Ingin tenang dan damai bersama isteri yang mencintainya. Keinginan seperti itu, selama bersama ibu Bondan hanya jadi angan. Hanya menjadi keinginan yang mau tidak mau lebih baik dipendam tim bang diungkapkan.
Hal seperti diimpikan oleh siapapun lelaki yang sudah jadi seorang suami, cuma jadi kerinduan yang paling nisbi. Saat ayahnya masih dalam kemiskinan, ibu Bondan, tak pernah mau mengurus – terlebih memperhatikan dan mamahami apa yang diinginkan dan dibutuhkan suaminya
Tak mungkin mencurahkan kegelisahan jiwa, pada Ibu yang tak mengurus dan tak bersahabat dengan putranya. Juga tak mungkin berkeluh kesah pada ayah, yang datang hanya sesekali, dan kunjungannya yang hanya sesaat, sebatas memenuhi kewajiban, memberi uang.
Bondan bukan tak pernah mengungkap, menyoal atau menggugat. Hasilnya? Ia malah memi lih droup out di akhir semester lima
Ratih, wanita yang dicintainya, lebih rela meninggalkan dirinya. Ratih, memilih menikah dengan pria mapan. Memang ia mengaku tak mencintai pria itu. Tapi ia tahu dan melihat ke nyataan, pria mapan pilihannya, lebih punya masa depan. Prilakunya, tak seperti Bondan, yang makin lama -- dengan alasan kecewa pada orang tua, bukan memperbaiki dan jadi lebih baik tapi malah makin berantakan
Makin akrab dengan minuman keras. Dekat dengan wanita yang kemesraan dan dekapan ha ngatnya hanya sebatas untuk uang. Bukan untuk hatinya yang kering kerontang. Juga bukan untuk hal lain, yang paling didambakan. Di setiap dekapan mereka, Bondan hanya merasakan nikmat dan kepuasan sesaat. Bondan tak pernah merasakan ketentraman paling nyata. Semua benar-benar hanya sesaat. Setelah itu, lenyap.
Menguap
Menelantarkan jiwa

0 Response to "BONDAN DAN TUKANG OJEK (2)"