MENUJU PELABUHAN CINTA (15)

oleh : Oesman Ratmadja

LIMA BELAS


         JAPRA buru buru menarik nafas panjang, karena  matanya yang spontan jadi jeli menangkap sosok yang paling dia harapkan, sudah kembali muncul dengan membawa dua gelas kopi hitam di baki.  
         Sebenarnya, setelah Komeng meletakkan gelas kopi untuknya di meja, Japra kepingin ngembat kopi panas untuk melupakan nasib malangnya. Tapi, karena yang ada dipikiran Japra cuma kepingin mencari cara menyelesaikan masalah,  tanpa pikir panjang kali lebar sama dengan luas, Japra sudah nyerocos. 
        Tanpa keraguan sedikit pun, Japra menjelaskan kekuatirannya yang kalau sepeda motor seken milik mas Rebo kembali diambil oleh Mas Rebo di hari Kamis atau Jumat atau di hari lainnya, Japra akan kembali kehilangan peluang untuk mencari duit karena dia tak bisa lagi ngojek. 
         "Nah, kalau gue nggak bisa ngojek, kapan lagi gue bisa isi dompet gue sama duit, Meng. Kan pasti disangka gokil kalau dompet gue isi pake daun mangga. Lagi pula, gue mokal berat Meng, kalau terus dikatain pengangguran yang nyari doku sehari lima puluh ribu perak aje kagak bisa,"  Japra yang langsung mengeluh sangat berharap setelah dia menguraikan keluh kesahnya, sang Sohib memberikan pencerahan.
       Sialnya, apa yang diharapkan Japra tak bisa direalisasi secepatnya. Sebab, Komeng lebih asyik meniup niup kopi di cangkir dengan mulutnya dan sepertinya kepingin segera  mereguk kopi buatannya sendiri. Membuat Japra harus tau diri dan dengan terpaksa mencoba jadi manusia sabar 
      Makanya, fokus Japra dialihkan kecangkir kopi yang barusan disediakan oleh Komeng untuk dirinya.
      "Enak, kan, kopi buatan gue," sela Komeng yang begitu melihat Japra mendekatkan cangkir berisi kopi ke mulutnya langsung bereaksi. 
     Japra yang sebenarnya kepingin buru buru mereguk kopinya terpaksa menunda keinginan menyeruput kopinya. Sebab, suara yang barusan dia dengar mengganggu konsentrasinya
      " Lu bagaimana juga, sih, Meng. Kopi belum gue reguk, lo udeh bilang kayak begitu. Lantas, kapan gue bisa komen soal kopi buatan elu yang entah nikmat atau nggak?" Japra Protes.
      " Waaah, sorry sebanget bangetnye, friend. Gue pikir kopi buatan gue sudah lo cicipin," timpal Komeng yang lantas menyeruput kopinya dengan begitu asyik. Japra pun tak lagi banyak bicara. ia segera mendekatkan cangkir kopi ke dekat bibirnya dan setelah beberapa kali meniup niup, dengan nafsu menyeruput kopi buatan sohibnya, Japra segera mereguk sang kopi/
     Cuma, siapa sangka Japra yang barusan begitu nafsu menyeruput kopi, malah langsung tersedak Membuat Komeng tersentak, kaget. Dia sama sekali tak mengira jika Japra yang spontan membuang kopi dari mulutnya, tak hanya tersedak sedak. Tapi juga langsung terbatuk batuk.
        " Lu nggak biasa minum kopi,friend?" Tanya Komeng yang tentu saja heran melihat Japra bisa sampai seperti itu, karena tidak tahu kalau kopi yang baru direguk Japra rasanya bukan manis tapi asin.
       Meski sebenarnya kesal dan kepingin banget ngejitak kepala Komeng, Japra tak bisa merealisasi keinginannya. Sulit bagi Japra buat  marah dan numpahin emosi. 
       Dengan wajah dan suara memelas, Japra hanya bisa menjelaskan kopi buatan Komeng yang dikira manis ternyata bukan berubah jadi pahit, tapi malah lebih menjengkelkan karena sangat asin. 
       " Lu bagaimana juga, sih, Meng. Kalo nih kopi pahit, gue maklum lantaran gue bisa aja berubah status jadi mbah dukun. Tapi, kalo kopi asin... ? Komeng... Komeng... tega banget lu yee sama gue," keluh Japra.
      Busyet, gimana mungkin Komeng nggak kaget, jika Japra berkata seperti itu. Pasalnya,  Komeng sama sekali tak mengira  kalau rasa kopi buatannya sangat  asin. Padahal, seingat Komeng,  saat di dapur, yang Komeng tuang ke cangkir untuk Japra bukan garam, tapi gula. Komeng tak sengaja melakukan hal itu karena kopi yang dibuat untuknya memang tidak pakai gula alias kopi pahit. . Sedangkan untuk Japra? Kok rasanya jadi asin padahal dia yakin yang dituang ke dalam cangkir adalah gula, bukan garam. 
     Nyatanya, kok Japra spontan melepehkannya karena rasa kopi yang direguknya bukan manis tapi sangat asin dan Japra tak cuma tersedak. Tapi, juga terbatuk batuk tiada henti 
     " Friend.. maafin gue. Sumpah.. dikasih duit lima juta dan diajak tur ke Bali gratis gue berani ambil, kok. Maksud gue, tadi gue yakin yang gue masukin gula. kalau ternyata garam dan kopi lu jadi asin, gue benar benar mohon maaf. Ma'aaaaaf banget," ujar Komeng yang jadi merasa bersalah. 
    Komeng jadi  kuatir dituding sentimen oleh Japra. Untung saja  Japra tidak menuding juga tidak berbalik ngambek. Dia malah memaafkan kekeliruan Komeng. Kalau saja dia marah karena kesal, Komeng bertekad akan mengusirnya dari rumah. eh, tepatnya Komeng akan kembali mengakui kesalahan yang tak disengajanya dan akan segera bertindak cepat sehingga bisa membuat kopi pengganti untuk rekannya yang kelihatan sengsara karena tertimpa nasib malang akibat mereguk kopi yang rasanya sangat asin. 
    Komeng akan berjanji mengganti kopi asinnya dengan kopi yang baru dengan jaminan, halal dan ditanggung pasti manis karena  Komeng akan sangat hati hati saat membuatnya agar peristiwa serupa tak kembali terjadi. 
      "Sekarang," ujar Japra kemudian. "Mari kita lupakan soal kopi asin, mengingat batukku sudah reda" Japra yang sudah bebas batuk malah berkata seperti itu
       " Gue setuju dan salut sama lu karena lu nggak minta kopi pengganti" sambar Komeng 
      " Meng.. tujuan utama gue datang ke sini tuh bukan buat ngopi. Tapi, kepingin konsultasi. sebab, setelah dilempar pakai sandal, tadi gue dilempar pake sepatu bot yang kayaknya biasa dipakai abang gue yang jadi satpam. Gue yakin, ketiga kalinya bakal dilempar pakai bata. Nah, bagaimana nasibku Meng, jika misiku gagal dalam memperjuangkan cinta Mas Rebo? Bagaimana jika  motor yang sudah dua hari kupakai diambil kembali oleh beliau," kata Japra yang malah malas  merahasiakan kondisi yang melekat di dirinya.
      " Japra... Japra... baru dilempar sandal sama sepatu saja sudah merasa kalah? Gimana kalau lu dilempar pake cobet buat bikin sambel?" sahut Komeng dengan sangat santai
      Japra tercengang.
      " Meng... gue nih serius mau konsultasi? Jangan lo tanggapin sama candaan, dong. Gue tuh butuh solusi, Meng," Japra tak menanggapi candaan Komeng karena ia lebih suka mengeluh 



 Bersambung.......

0 Response to "MENUJU PELABUHAN CINTA (15)"