MENUJU PELABUHAN CINTA ( 13 )







oleh : Oesman Ratmadja


        Karena merasa terpompa - padahal Japra bukan ban dalam sepeda motor, pesimisme Japra kembali berubah dan mulai memuaikan aromo optimisme. Meski begitu, Japra belum tahu apa kah dirinya bisa melanjutkan missi yang kalau berhasil mencapai target berhak atas sebuah sepeda motor, atau karena awalnya gagal, mengambil keputusan untuk undur diri dan menyerahkan missi memperjuangkan cinta mas Rebo ke mak comblang lain. 
        Hanya, hadiah berupa sepeda motor, tak bisa dilupakan dengan begitu saja oleh Japra. Benda indah itu, tetap saja terlihat dengan jelas di pelupuk matanya  Membuat Japra yang kini berada dalam posisi antara pesimis dan optimis, berpikir keras. Anunya yang mengeras - maksudnya, pikirannya yang dari sekedar keras jadi makin mengeras, membuahkan rasa penasaran pada diri Japra, yang awalnya ogah melanjutkan missi karena kuatir setelah dilempar sendal nantinya dilempar oleh sepatu atau batu.
        Karena Japra sudah dipengaruhi oleh rasa penasaran, semangatnya yang paling utuh membuatnya memilih untuk mencoba lagi melanjutkan missi. Tanpa ragu lagi Japra lantas mempertanyakan kepenasarannya ke mas Rebo, yang diyakini sudah berkata serius kalau dia tetap memberinya kesempatan untuk memperjuangkan cinta mas Rebo
       " Hahahahaha..... sampeyan kok kuatirkan hal itu, sih. Bukankah saya sudah janji." Jelas Mas Rebo
       " Janji," lanjut mas Rebo. 
       " Tak beda dengan sumpah. Jadi, kewajiban saya hanya mememuhi dan bukan menolak atau memutuskan hubungan atau meniadakan kepercayaan saya kepada mas Japra. 
       "Jadi, saya tetap bisa memperoleh peluang untuk tetap menjadi mak comblang yang paling bersemangat dalam memperjuangkan cinta mas Rebo?" Tanya Japra yang karena masih dihinggapi rasa penesaran jadi kepengen dapat jawaban konkrit dari mas Rebo
       " Kang...," jawab Mas Rebo sembari mengambil selembar lima puluh ribuan dan memasukkan ke saku baju Japra.
       " Saya ini," kata Mas Rebi kemudian
       "Bukan memberi peluang dan akses seluas luasnya kepada sampeyan untuk membangun dan mengembangkan karir sebagai mak comblank. Dan soal hadiah, juga tak ada maksud dari saya untuk mengubah atau mengurangi. Malah, kalau perlu, selain saya kasih sepeda motor juga akan saya beri bonus, jika memang saya anggap berhasil"
      Melihat kondisi Japra yang setelah mendengar penjelasannya makin pulih dan semangatnya sudah kembali berasap asap dan berapi api, Mas Rebo segera bergegas memompa agar yang sudah tumbuh dan berkembang itu makin cepat memuai dan menebarkan semerbak wangi semangat dalam memperjuangkan cinta mas Rebo 
      "Jika memang perlu dan sampeyan rindu pada sepeda motor," sambung mas Rebo
      " Sekarang pun, saya siap memberikan sampeyan sepeda motor yang sampeyan inginkan. Hanya, saat ini saya belum beli motor yang baru. Jadi, untuk sementara dan sampai missi selesai, sampeyan bisa pakai dulu sepeda motor saya yang ada di rumah. Kondisinya masih bagus, lho. Sampeyan tak hanya bisa pakai untuk lenjutkan miss. Tapi, juga digunakan untuk ngojek. Kalau perlu untuk mengajak pacar sampeyan jalan jalan, juga tak masalah. 
     Yang penting, sampeyan benar benar serius untuk kembali melaksanakan tugas sampai berhasil. Sekarang, saya hanya bisa menyampaikan selamat bertugas dan selamat berjuang bersama fasilitas yang lebih keren dari saya. Semoga, dengan memakai sepeda motor, kinerja sampeyan makin cepat membuahkan hasil "
     Japra tak lagi mikir ke utara atau ke timur. Juga tak mau menoleh ke barat dan ke selatan. Yang langsung ditatap oleh Japra adalah sosok mas Rebo, yang kemudian dipeluk oleh Japra dengan sepenuh semangat dan bersamaan dengan itu Japra mengucapkan terima kasih dan mengatakan kalau orang di hadapannya benar benar mas Rebo yang super baik dan budiman
      Kalau saja mas Rebo tidak berteriak minta dilepaskan karena dirinya jadi susah bernafas selama dipeluk dengan begitu erat oleh Japra, boleh jadi, yang namanya Japra tak mau melepaskan pelukannya. Maklum, kondisi Japra sudah kembali Percaya Diri full.
      Setelah batuknya berhenti akibat ulah Japra yang setelah diminta baru melepaskan pelukannya, Mas Japra mengingatkan agar Japra tidak mengulangi lagi perbuatannya
     " Kalau hari ini saya tewas karena pelukan sampeyan, apa kata dunia, kang? Apa kata Nurlela, yang barangkali saja, diam diam sebenarnya tengah merindukan saya menjadi kekasih dan sekaligus sebagai calon pasangan hidupnya "
     " Ma.. maa... maaf mas Rebo, saking girang dan salut dengan kebaikan mas Rebo saya jadi lupa kalau dalam memeluk tak boleh gegabah," Japra yang menyesali ulahnya segera meminta maaf pada mas Rebo.




Bersambung........

0 Response to "MENUJU PELABUHAN CINTA ( 13 )"