BETAPA SULITNYA MEMBANGUN DISIPLIN

oleh : Oesman Ratmadja


KITA boleh iri dengan negara tetangga seperti Singapura, yang sudah terlanjur asyik menikmati kondisi disiplin karena tak hanya warganya. Turis dari negara manapun, akan mengikuti dan taat pada peraturan yang berhasil diterapkan oleh pemerintah Singapura, sehingga selama berada di sana justeru merasa malu jika membuang sampah sembarangan.

Tak hanya kebiasaan membuang sampah di tempat yang sudah disediakan, yang dijadikan budaya oleh negeri tetangga yang banyak dikunjungi oleh warga negara Indonesia, yang merasa bangga jika bisa berbelanja dan berobat ke Singapura. Tapi juga oleh para Koruptor yang sengaja lari dan bersembunyi di Singapura, setelah di Indonesia berhasil menggasak uang rakyat.

Meski sudah begitu banyak orang Indonesia yang melancong ke Singapura dan mengakui keberhasilan negara itu membangun disiplin dalam berbagai aspek kehidupan, hanya sanggup membicarakan dan menyatakan salut semata. Sedangkan keinginan kuat untuk meniru hal positif, justeru langsung melelah setelah kembali ke Indonesia.

Mengapa akhirnya kita hanya terlanjur mengalami kesulitan dalam membangun disiplin, padahal di era orde baru, Jakarta pernah menghadirkan petugas Penegak Disiplin namun hingga kini yang memfenomena justeru kesulitan membangun disiplin?

Boleh jadi lantaran di era orde baru, hal positif yang dicanangkan oleh pemerintah, tidak dilaksanakan secara berkesinambungan. Berbagai program positif, lebih sering dilaksanakan bersama semangan hangat hangat tai ayam. Gaduh sejenak tapi setelah itu amblas bak ditelan bumi. Akibanya, yang kian memfenomena justeru bukan kedisiplinan tapi justeru kesemrawutan. Dan kesemrawutan yang paling menonjol, dengan mudah bisa dilihat saat setiap anggota masyarakat berada di jalan raya

Sepertinya, baik pemerintah maupun masyarakat, seperti sepakat untuk lebih memilih tidak sepakat untuk membangun dan mengembangkan budaya disiplin. Namun di balik itu, kesemrawutan yang makin memfenomena diperbincangkan sebagai sebuah fakta yang memprihatinkan. Bahkan, membuat kuatir semua pihak, karena setelah pemerintah membangun lajur untuk bus way, jalan yang mestinya tidak boleh digunakan oleh masyarakat umum - kecuali bus way, justeru diperebutkan oleh pengendara sepeda motor dan kendaraan roda empat, untuk kepentingan masing masing pribadi karena tidak siap dan sulit sabar jika tetap berada di lajur yang hanya menyajikan suasana macet.

Jika tidak ada keinginan untuk mengubah kesepakatan tak tertulis dimana pemerintah dan masyarakat lebih sepakat untuk tidak disiplin menjadi lebih baik sepakat untuk disiplin, maka Indonesia akan semakin larut dalam ketidak disiplinan dan akhirnya hanya sanggup menyimpulkan, betapa sulitnya membangun disiplin. Padahal, jika serius mencontoh negera seperti Singapura, kesimpulan betapa sulitnya membangun disiplin bisa berubah dengan cepat menjadi Betapa Mudahnya Membangun Disiplin.

Percayalah, jika kesepakatan untuk membangun disiplin dijadikan komitmen yang siap dilaksanakan dengan konsisten dan konsekwen, tak ada kesulitan apapun bagi Indonesia untuk membangun disiplin. Hanya, kapan kita bisa menikmati suasana dan kondisi tertib di jalan raya? Jika sepakat menjawab di tahun 2014 bisa, sepertinya bukan impian indah. Tapi, bisa jadi kenyataan yang semua pihak bisa menikmatinya. 

Masalahnya, Indonesia justeru lebih suka berada dalam kondisi terlanjur tidak disiplin. 

0 Response to "BETAPA SULITNYA MEMBANGUN DISIPLIN"