BONDAN DAN TUKANG OJEK (37)







oleh : Oesman Ratmadja


“ Menurut lu, gue ni lebih baik nginap di rumah abang, nginap di hotel apa pulang dan tidur di rumah, yaa ?”
“ Aduuuh, gimana, ya? Saya,jadi susah ngejawabnya, nih, boss?”
“Susah apa nggak ngijinin gue nginap di rumah abang ?”
“Boss, sumpah! Jangankan nginap, boss mau datang ke rumah saja, saya pasti langsung senang setengah mati, boss. Cuma…Aduuuh, gi mana, ya? Terus terang, boss, rumah petak yang saya kontrak, nggak layak buat anda, boss?”
“Lu anggap gue orang hebat, apa? Emang gue raja cipoa atawa presiden yang nggak punya negara? Emang gue orang penting? Lu ka lau ngomong jangan bikin gue kesal, bang. Gini-gini, gue ini bukan orang penting. Bukan anak ra ja atawa anak presiden. Masa’ lu malah bilang, rumah lu nggak layak buat gue?
Bang, bilang aja terus terang. Lu tuh nggak sudi kalau gue nginap di rumah lu. Takut terganggu, dan takut direpotin. Iya, kan ?”
“Saya sama sekali nggak punya pikiran seperti itu, boss. Sumpah! Saya sangat senang dan merasa terhormat jika memang boss mau ngi nap di rumah saya. Cuma, masalahnya, saya ting gal di rumah petak. Ukurannya cuma tiga kali tujuh meter, boss.
Sempit. Panas, pengap. Nggak layak kalau boss nginap di rumah kontrakkan saya “
“Lu jangan ngomong, ngaco, bang. Gue nggak nanya berapa ukuran rumah, lu, kok. Juga nggak nanya luas atau sempit. Yang gue tanya, boleh apa nggak gue nginap di rumah abang? Jawaban yang kepengen gue dengar, boleh atau tidak. Kalau boleh, cepat kita pulang ke rumah abang. Kalau nggak boleh, gue nggak maksa. Ngerti, kan, bang apa yang gue omongin ?”
“Sangat ngerti, boss. Sekarang terserah boss, saja. Jika boss memang mau nginap, silah kan. Jika tidak, saya tidak marah “
“Ooh, gitu, bang. Jadi, lu tetap berharap gue nggak nginep? Yaa, sudah, berarti lu nggak ngijinin gue nginep ?”
Bondan jadi kesal. Bukan becanda jika langsung melengos lantas bergerak dengan cepat, meninggalkan Sabar. Sabar sangat kaget. Juga sangat menyesal. Dia tidak mengira, jika Bondan yang seharian mengesankan, bisa ngambek berat. Tanpa malu, Sabar yang tak ingin mengecewa kan Bondan, berteriak. Ia memanggil sambil me ngejar Bondan.
“Boss..tunggu boss.”
Sabar yang terengah-engah, nekad. Ia memberanikan diri meraih tangan Bondan.
“Gue mesti tunggu apalagi?” kata Bon dan, sembari menepiskan tangannya.
“Boss tunggu di depan sana. Saya ambil motor. Malam ini, boss harus nginap di rumah saya “
“ Lu ikhlas ?”
“ Insya Allah, boss. Tunggu di depan sana, boss. Saya ke belakang, ke tempat parkir, ambil motor “
Bondan tersenyum.
Begitu cepatnya ia meluluhkan kesal yang barusan saja hinggap di dirinya. Ia menatap Sabar yang bergegas meninggalkannya, dan nampak berlari agar bisa segera mengambil sepeda motor di tempat parkir. Dengan santai, Bondan bergerak ke luar.
Ke pintu keluar rumah sakit Mahal Itu Indah.
Di areal parkir, Sabar tak segera mengeluarkan motor ke jalan kecil, di antara deretan motor yang di parkir. Ia bingung dan masih terus terhenyak oleh rasa haru. Sabar duduk di atas motor yang diparkir, dan kembali menangis. Sesenggukan

"Pak..kenapa? Kehilangan motor apa ada keluarga yang meninggal dunia,” tanya lelaki brewok, sekitar empat puluh tahun, berpakaian necis, yang tanpa ragu, menyapa Sabar yang sedang sesenggukan.


Bersambung.......

0 Response to "BONDAN DAN TUKANG OJEK (37)"