BONDAN DAN TUKANG OJEK (VII)


oleh: Oesman Ratmadja


Saking senangnya, Mbok Sinem jadi terharu. Bagaimana tidak, jika tugasnya yang sedemikian ringan, dibayar kontan dengan tujuh lembar ratusan ribu. Malah, Bondan berjanji akan menggenapkannya jadi sejuta. Ah, mbok Sinem jadi agak bingung. Tapi setelah sejenak merenung, si mbok berjanji tak akan mengingatkan den Bondan untuk menambah bonusnya
"Segini saja aku sudah sangat bersyukur,  mengapa mesti tergoda mengingatkan den Bondan agar membulatkan jadi sejuta. Sinem... Sinem... teruslah berusaha untuk tidak serakah," gumam batin mbok Sinem.

Bondan begitu sulit melupakan hari itu. 
Hari yang menurutnya sangat bersejarah. Hari di mana ia jadi bisa menilai, siapa dan bagaimana rekan-rekannya. Kalau saja ia tidak mengalami, Bondan yakin, suatu saat dirinya bisa celaka. Jika saja tekadnya tidak kuat untuk mengubah kebiasaan lama  dengan menjauhkan diri dari kawan-kawan yang selama ini dianggap kawan-- tapi ternyata tidak dalam arti sesungguhnya,  boleh jadi, Bondan masih berada dan tetap bersama mereka. Tetap di kehidupan yang sekilas begitu indah dan mengasyikkan, tapi sebenarnya mencelakakan
Di lintas kehidupan yang sepanjang malam kelayapan, mabuk mabukan, menikmati kehangatan memeluk dan dipeluk para abg dan tak kenal berhenti menyeruak malam, ternyata hanya geliat tak terkendali dari jiwa yang kekeringan perhatian dan kasih sayang.
Toh, ujungnya tetap hampa. Tetap tak mendapatkan apapun, selain lelah dan lelah.Kalau pun ada nikmat, hampa manfaat. Kalau pun ada kepuasaan, hanya seketika dan yang kemudian kembali dirasakan tak lebih dari sia sia. Sama sekali tak bermakna. Buahnya bukan kebahagiaan hakiki. Tapi kebahagiaan semu. Kebahagiaan yang di dalamnya sama sekali tak melekat hakekat. Dan Bondan tetap kembali dan kembali lagi ke hal serupa, dan sia sia
Kesia-siaan yang jika berulang dan terus berulang dan tanpa berusaha menghalang, ketika semakin meluas boleh jadi hanya membuat dirinya terhempas.
Bondan tak cuma ingin menjauhi kebiasaan buruknya. Bondan yakin, dirinya bisa melupakan semua yang pernah disentuh dan dimanjakan. Bondan tak ingin sampai ke titik sesal tak berguna. Kalau akhirnya ia merasa menyesal, yang diharapkan dan diinginkan adalah sesal yang masih mendatangkan manffat dan tetap bedaya guna.
Bukan berarti Bondan merasa telah benar-benar berhasil menyelesaikan masalahnya. Ia baru sebatas membebaskan diri dari ruang pergaulan yang sama sekali tak tertata. Belum sepenuhnya bebas dari berbagai ruang yang siap mencengkram siapa saja termasuk dirinya
Bondan sadar, masalah yang dihadapinya sangat berat. Lebih berat dari para pejuang Palestina, yang kalau pun mereka harus berperang, sangat mengerti dan paham untuk apa mengorbankan harta dan nyawa. Lebih berat dari beban yang dipikul oleh Presiden dan para menterinya, yang kalau pun menyatakan siap berjuang untuk mensejahhterakan rakyat, bukan untuk mensejahterakan kelompok dan pribadinya.Meski dalam kenyataan. beda ucapan dan tindakan malah dianggap hal biasa. 
Berjuang agar mengenal dan memahami diri sendiri, memang jauh lebih berat dari perang itu sendiri. Sebab, perang di medan lagi tahu siapa musuh dan apa target yang akan dicapai. Sedangkan Bondan, sama sekali belum paham apa dan siapa musuh sebenarnya, dan bagaimana cara memperjuangkannya, mesti yang dinginkan sama, menang dalam peperangan
“ Tuhan…jika hamba tak sanggup mengubah prilaku buruk, hamba serahkan dan hamba pasrahkan semua masalah hamba  hanya kepadaMu. Jika hamba sanggup, berikanlah kemudahan agar hamba selalu bisa melihat jalan kebenaran yang di dalamnya mengandung berbagai kebaikan, semakin terang benderang. Sehingga, langkah hamba hanya mengarah ke jalanMU. Hamba ingin berubah. Tuhanku…Beri hamba kemampuan yang penuh dan menyeluruh“

Bondan mulai menikmati indahnya hidup dengan berdo’a. Seketika, Bondan seperti lupa betapa sulitnya menjadi diri sendiri. Dari hal yang sekian lama tak dilakukan, Bondan tergerak untuk membasahi tubuhnya dengan wudhu. Menyinari batinnya dengan sujud dan ruku' 
Seberat apapun, Bondan mulai belajar melakukan hal yang kembali dijalani dengan ikhlas. Dengan rasa syukur yang mendalam. Bukankah  seorang hamba seperti dirinya memang punya kewajiban yang sama, menyembah dan mengesakan Sang Pincipta Siang dan Malam.
Memang terasa berat saat mulai berusaha mensucikan tubuh dengan air wudhu dan mensucikan hati dengan ruku' dan sujud, dan bacaan shalat yang telah sekian lama terabaikan. 
Dan ketika hasrat berserah diri kepada Sang pencipta mulai kembali dilakukan, Bondan berusaha menghimpun kemampuan agar keinginan yang mulai dirindukan bisa terus menerus dilaksanakan. Bondan yakin, jika sudah bisa mengawali yang selama ini dirasakan sulit, ia akan terbiasa. 
Bondan mulai merasakan air matanya berjatuhan. Linangan air mata yang mengucur dengan sendirinya dari kedua pelupuk mata, seperti magnit. Kekuatan dan daya sedotnya yang sedemikian tinggi, seperti mengajak Bondan mengingat semua yang telah dilakukan.
Di saat saat seperti itu, Bondan mulai merasakan, betapa banyak manfaat yang didapat ketika dirinya mengingat masa yang harus dianggapnya silam, masa dimana dirinya hanya larut dalam lakon indah yang memporak porandakan jiwa. Masa di mana kebodohan demi kebodohan dilaluinya karena hawa nafsu yang sedemikian kuat memperdaya, membuat dirnya tak mampu mengingat apa yang lebih pantas dan lebih layak untuk diingat.
Dalam kondisi seperti itu, Bondan malah menganggap lebih penting mengingat apa yang patut dan layak dia ingat sesuai dengan yang dia inginkan, sejalan dengan geliat hawa nafsu yang hanya mengajaknya mengejar kepuasan demi kepuasan. Meski sesungguhnya kepuasan yang kalau pun berbuah nikmat,  hanya seketika. Malah, abstrud. 
Begitu mudahnya Bondan terbawa dan kalau saja ia tak kuasa mendeteksi dengan apa yang terjadi, ia mungkin akan hanyut dan akhirnya tenggelam. Tak seorang pun yang akan peduli untuk membantu menyelamatkan dirinya, kecuali diri Bondan sendiri.
Mengingat semua yang masih terlihat jelas di pelupuk mata, Bondan tak sanggup menepis rasa bersalah yang terbit seketika. Tertulis  dengan jelas, karena bak berita di koran atau majalah, yang menguraikan aneka peristiwa. Bondan membacanya dengan begitu seksama
Bondan sesenggukan sendirian, di kamarnya yang mulai terhampar sajadah. Di kamar pribadi Bondan yang sekian lama tak menggema doa, mulai terdengar lantun doa saat Bondan bersujud dan setelah Bondan menutup shalatnya dengan salam. 

Bersambung.....

0 Response to "BONDAN DAN TUKANG OJEK (VII)"