CINTA TANPA AGUNAN (3)


TENTU IPAH berharap dan jika harapannya terkabul, IPAH tak saja bakal semangat menyiapkan makanan terbaik dan terlezat yang dibuat oleh tangannya yang berjari lentik, tapi juga akan bersemangat menjelaskan ke babe ples nyokapnya supaya mereka merestui. Setelah itu, membujuk agar kedua orangtuanya bicara baik baik dengan Arman agar cowok yang telah membuatnya bersimpati, segera menyuntyingnya.
IPAH lebih kepingin setelah kenal dan saling yakin, lantas bergerak ke akad nikah timbang berlama lama pacaran tapi belum tentu nikah. Bukankah soal pendalaman saling mencintai dapat dinikmati dan dijalankan setelah menjadi  suami isteri? Ipah yakin, bila seperti ini, Arman bisa jadi pendamping dan sekaligus teman hidup untuk Ipah. Begitu pun sebaliknya, Ipah akan menjadi isteri dan juga pendamping hidup untuk Arman.
“ Yaa Rabb… tentukan dan jadikanlah Arman yang baru saya kenal sebagai jodohku,” Ipah yang memburu ke arah Arman, menyempatkan berdoa dalam hati.
Namun, setelah langkahnya terhenti karena dia harus bersabar menunggu kendaraan yang lalu lalang sehingga tak bisa bergegas menyebrang, IPAH terpana. Dia seperti tak percaya dengan realita yang dihadapinya. Serasa tak masuk akal jika tak lagi terlihat sosok Arman.
“Ke arah mana dia beranjak?” Ipah membatin dan meski berkali kali dia memutar pandangannya ke berbagai arah, yang dicarinya malah tiada. Yang diharapnya setelah Ipah mengalami hal yang membuatnya merasa bahagia, tiba tiba saja berubah. Ipah sangat ingin berteriak sekerasnya, memanggil nama Arman dan jika teriakannya didengar lalu Arman datang menghampirinya, kemudian berbisik “Bukankah kamu mengundangku datang ke rumah? Jika undangannya serius, mengapa kita harus berlama lama disini?” sambil meraih pergelangan tangan Ipah lalu menarik dengan mesra untuk sama sama beranjak dari situ, duuuuh…. Alangkah indahnya.
Sayang, yang keindahannya tak lapuk diguyur hujan, tak retak ditabrak bulldozer hanyalah pemandangan alam yang terus menyemburatkan pesona. Sedangkan keindahan yang beberapa saat silam terlukis di pelupuk mata Ipah, justeru punah dan sudah hilang sebelum Ipah sempat mengarsipkannya direlung relung hati dan menyimpan sebaik baiknya di lemari asmara
IPAH hanya bisa menarik nafas panjang setelah tekadnya yang kuat untuk berteriak sekencang mungkin sembari memanggil nama Arman, tak sanggup dia laksanakan karena sadar kalau urat malunya belum putus.
Berkali kali ARMAN menarik nafas lega. Membuat temannya menyempatkan waktu menepikan sepeda motornya dan berhenti setelah di tepi jalan dan berada di posisi yang aman
“ Kayaknya ente nggak ada berhentinya narik nafas, deh. Memangnye, dikejar ape sih,” Tanya Juki
Tentu saja Juki jadi kepingin tahu apa sebabnya Arman yang  sejak Arman  menyetop laju motornya dan langsung loncat untuk ikut bersamanya, bukan mengajaknya bicara tapi malah terus menerus menarik nafas lega. Kalau pun Arman lega karena sudah bebas dari rasa takut, Juki kepingin tahu apa yang membuatnya bisa seperti itu.
Semisal Arman belum merasa bebas dari sesuatu, kenapa pula Arman  yang bertemu dengan Juki tidak mengajak Juki ngobrol, tapi malah terus menerus menarik nafas sembari memegangi pinggang Juki dengan begitu kuat.
“ Jadi ente nggak mau ngejelasin kenapa sejak nyemplak di motor ane, malah cuma narik nafas padahal biasanya ente kayak petasan rencengan, begitu bersuara nggak berenti berentinya nyerocos ”
Arman baru bisa menyahut setelah dia merasa benar benar tenang. Bebas dari apapun, karena setelah cukup lama mengawasi jalanan dirinya tak menangkap keberadaan IPAH
“ Jadi lo mau tau kenape gue kayak copet yang gagal nilep dompet dari ibu ibu yang gaji lakinya kagak seberapa, tapi kalo ke pasar dia bergaya seperti isteri seorang manager?”
“ Gue bukan kepingin tau urusan orang, MAN. Cuma, siapa yang kagak penasaran kalo ngalamin kejadian yang kayak barusan. Inget Man, pas ngeliat gue berenti lantaran macet lu langsung nyemplak ke motor gue. Setelah lu bilang tolong cepat tinggalkan tempat ini, yang kemudian gue dengar cuman elahan nafas lo. Bukan kebiasaan lo yang kalo sudah mulai nyerocos, malah terus asyik ngegas tapi lupa nginjek rem “


Bersambung

0 Response to "CINTA TANPA AGUNAN (3)"