CINTA TANPA AGUNAN (2)


IPAH  gregetan. Malah beranjak ke kesal. Pasalnya, Arman yang keliatannya mempertimbangkan, mikirnya kekiwatan lama. Padahal, menurut IPAH, kalau setuju, kan tinggal bilang oke. Jika sebaliknya, tidak setuju, jangan bilang tidak oke. Tapi, maaf yaa mungkin lain kali baru saya bisa. Jika sekarang, kan saya harus berangkat kerja atau harus ikut ujian di kampus
“ Nah,,apa susahnya, kan?”
Itu kata IPAH, lhoo. Batinnya bilang kayak gitu, gak lain lantaran baru kali ini   IPAH mendadak merasa kepincut sama seorang cowok yang kalau kebetulan bermata elang dan kalau pun bermata kampret IPAH belum tentu tidak suka. Soalnya, Arman  punya kelebihan lain, yaitu, memiliki kepedulian yang tinggi. Kayaknya, Arman yang kesenggol oleh IPAH, bukan pamerkan sebal malah bergegas menolongnya. Lantas, Arman bergegas ingin meninggalkannya.
Keinginan segera meninggalkan IPAH setelah menolong mengambil belanjaan yang serserakan ke tanah, lebih kuat timbang memanfaatkan momen itu untuk segera berkenalan dan kemudian merayu IPAH.  Itu sebabnya IPAH berusaha untuk meraih simpati atau empati Arman. Dan jika Arman berkenan, IPAH tak saja bakal memperkenalkan pada ibunya, tapi sekaligus mengakuinya sebagai pacar yang kelak akan menjadi teman  hidup yang membahagiakan.
IPAH yang tak sabar menunggu jawaban, akhirnya terhenyak.Pasalnya, Arman malah meninggalkan IPAH tanpa sepatah kata. IPAH yang kaget tak bisa mengucap apapun, kecuali memutar tubuhnya agar bisa melihat sosok ARMAN yang baru saja melintas dan karena larinya  begitu cepat, membuat IPAH pun harus memutar tubuh dengan cepat, sehingga dapat melihat ke mana Arman pergi
IPAH mengira Arman bakal langsung  naik ke sebuah angkot  yang bersamaan dengan leluasanya IPAH memandang sosok Arman, dia melihat angkot itu menepi dan berhenti. Sepertinya sopir sengaja nberhenti karena akan mengambil Arman sebagai penumpang barunya. Nyatanya, angkot hanya menurunkan penumpang dan Arman menghampiri seorang ibu tua yang nampaknya kesulitan untuk menyebrang ke sebrang     jalan.
Melihat apa yang jelas nampak dalam pandangannya, IPAH yang sebenarnya sempat menduga Arman akan meninggalkan dirinya tanpa pesan apalagi kesan, ternganga. Sekejap kemudian, IPAH terpesona mengingat yang dilihat nyata olehnya sangat di luar dugaan namun langsung membuahkan kesan yang boleh jadi bakal sulit dilupakan.
IPAH yakin, apa yang baru saja dilakukan oleh Arman tak akan ada yang tertarik untuk melakutau kan hal yang sama. Buktinya, ada beberapa lelaki yang kayaknya sebaya dengan Arman, namun yang kemudian menolong ibu tua itu menyebrang, justeru Arman. Padahal, saat itu Arman tengah berdiri di depannya dan sedang mempertimbangkan tawaran IPAH untuk mampir ke rumahnya.
Nyatanya, justru Arman yang bertindak cepat dan dengan kepedulian yang melekat di jiwanya, Arman menuntun ibu itu menyebrang dan sepertinya setelah disebrangkan si ibu berterima kasih pada Arman. Baru kemudian dia melenggang, meninggalkan Arman yang beberapa saat memperhatikan langkahnya, dan tak lama Arman berpaling.
IPAH yakin, Arman mencari cari keberadaan dirinya. Keyakinan itulah yang membuat IPAH spontan beranjak, Dia seperti tak punya hasrat untuk segera kembali ke rumah dengan belanjaannya, karena saat itu hasrat IPAH hanya ingin mendengar jawaban Arman yang dia undang ke rumah.

Bersambung  

0 Response to "CINTA TANPA AGUNAN (2)"