JANGAN PELINTIR ARTI KASIH SAYANG

oleh : Oesman Ratmadja



      ORANGTUA manakah yang tak ingin mencurahkan kasih sayang terhadap putra putriny? Secara teoritis, tentu saja tak ada orangtua yang tidak ingin atau emoh mencurahkan kasih sayangnya. Dan lagi, secara teoritis, setiap orangtua pasti punya keinginan untuk memberikan segalanya - termasuk kasih sayang, untuk putra putrinya.
         Praktinya, tidak semua orangtua bisa mewujudkan keinginan mulianya. Banyak yang karena terlalu sibuk mencari nafkah (apalagi suami isteri yang bekerja) atau juga tak sedikit, hanya suami yang bekerja tapi ibu di rumah tak mampu mengaplikasikan kasih sayang dengan sebaik baiknya. Dan ini terjadi karena banyak wanita, yang malah tak menyadari bahwa dirinya sudah menjadi ibu. Karena tak menyadari lantas tak paham, apa yang harus diperankan dan bagaimana menjadi seorang ibu.
       Yang kemudian terjadi, sudah merasa memberi kasih sayang jika sudah memberi uang, mencukupi kebutuhan, memenuhi permintaan berupa materi pada anak dan malah merasa bangga untuk mengijinkan atau membiarkan anak melakukan apa saja. Hal ini bisa terjadi, karena sang ibu lebih fokus memikirkan dirinya sendiri dan keinginan keinginan pribadinya sebagai seorang wanita, tanpa pernah mengaitkan status dirinya yang sudah bukan lajang, tapi telah menikah, menjadi seorang isteri dan juga sebagai ibu.
       Akibatnya, sang ibu tak pernah tahu apa yang sesungguhnya dilakukan oleh anaknya. Bagaimana perkembangan putra putrinya, dan langkah apa saja yang dilakukan sang anak dalam bersosialisasi di lingkungan dan di sekolah. Prilaku sang anak yang tak pernah dideteksi dan malah diyakini putra putrinya akan baik baik saja, baru disesali setengah mati, setelah terjadi sesuatu yang sangat tak pernah diduganya.
       Misalnya, sang anak tertangkap pihak yang berwajib karena tawuran saat berangkat atau pulang sekolah, saat bermabuk mabukan, saat berjudi, saat memalak anak sebayanya, saat sakaw karena narkoba, atau saat melakukan kebut kebutan liar. Dan penyesalan sang ibu semakin tak berarti apa apa, jika sampai sang anak meninggal dunia dalam usia remaja, entah karena berkelahi, pengaruh minuman keras oplosan, atau karena hal lain yang negatif dan berujung pada kematian.

          KASIH SAYANG
          Bukan orangtua saja yang semakin pandai memelintir arti dan makna kasih sayang. Anak anak juga seperti kecanduan untuk memelintir kasih sayang. Jika minta dibelikan alat permainan atau minta uang yang jumlahnya cukup besar untuk satu keperluan, dan permintaannya tidak dikabulkan entah karena orangtua belum punya uang atau karena permintaannya dipertimbangkan apakah bermanfaat atau tidak, sang anak malah langsung menyimpulkan ibu atau ayahnya tidak sayang sama anak.
        Sebaliknya, juga tidak berbeda. Tak sedikit orangtua yang malah memanfaatkan waktunya untuk menikmati keinginan pribadi. Agar keinginannya tidak lagi berkendala oleh anak, maka yang kemudian diandalkan oleh orangtua justeru memenuhi semua permintaan anak, mengijinkan putra putrinya kelayapan, karena dengan begitu, ibu bisa bebas untuk pergi dan melakukan apa saja, dan sang ayahpun, meski seharian sudah lelah bekerja, karena punya keinginan dan kebiasaan pribadi yang tak ikhlas untuk ditinggalkan, lalu lebih memilih memanjakan dirinya dengan kumpul bersama kolega.
            Ada yang pergi memancing dari pagi hingga sore di saat libur. Ada yang keluar di malam hari hanya untuk obrol obrol tak keruan dengan para orangtua lainnya sambil membanting kartu. Juga ada yang malah mencari hiburan dengan pergi ke diskotik, karaoke atau bar, dengan koleganya. Tak lagi dipikirkan, bagaimana dengan isteri dan anaknya. Sebab, merasa cukup memberi perhatian dengan memberi uang gaji dan uang di luar gaji yang bisa diperolehnya dengan mudah.
         Begitu pun dengan sang ibu. Meski dirinya tidak bekerja, namun sangat sibuk dengan berbagai kegiatan yang sama sekali tak mendatangkan manfaat, kecuali sebatas memanjakan dirinya yang kepengen begini dan mau begitu, tanpa menyadari bahwa dirinya sudah berstatus isteri dan juga ibu dari putra putrinya.
           Mestinya, tentu saja kasih sayang tak membuahkan disharmoni.
       Sebab, jika di setiap rumah yang namanya kasih sayang berlimpah dan maknanya tidak dipelintir dengan seenaknya, sudah barang tentu, kala suami ke kantor dan anak ke sekolah, sang ibu tak hanya betah di rumah. Tapi, juga selalu merasa kehabisan waktu karena meski sendirian, malah merasa dikeramaian karena sibuk menyapu, membersihkan lantai ruangan rumah, memasak dan setelah semua pekerjaan rutin yang dianggap menyenangkan dan tidak ditempatkan sebagai kegiatan yang hanya membuat lelah dan membosankan, selesai, yang kemudian dilakukan tentu saja melaksanakan ibadah. Selain shalat juga membaca Al Qur'an dan juga membaca buku bermanfaat untuk menambah ilmu dan memperluas wawasannya
          Sayang, di era modern, rutinitas seorang ibu di rumah, justeru tak lagi disuka, karena pekerjaan mengurus dan merawat rumah, dianggap membosankan dan sangat tidak sesuai dengan status dirinya, karena pekerjaan tersebut lebih oke jika diserahkan kepada pembantu rumah tangga. Begitu pun dengan para suami yang sesungguhnya jadi ayah. Alasan capek seharian bekerja mencari nafkah dan mengaku di kantor merasa tertekan, sesampai di rumah, malah berusaha bergegas ke luar rumah dengan alasan ingin membebaskan diri dari stress.
          Padahal, saat di rumah - terlebih di hari libur, suami isteri sama sama berada di rumah. Selain bercengkrama dengan anak anak, juga saling berbagi rasa. Saling curhat dan saling ingin mengetahui apa yang akan diceritakan atau disampaikan oleh masing masing anggota keluarga. Jika hal ini membudaya, maka tak ada anak yang betah di luar rumah. Sebab, sudah terlebih dahulu merasakan, betapa tinggal di rumah membuatnya damai dan bahagia, karena merasa kalau kedua orangtuanya sangat mengasihi, karena setiap kumpul bersama,  selalu mencurahkan kasih sayang secara proporsional.
             Seorang ayah akan merasakan hal yang sama. Sebab, sikap dan prilaku sang isteri dan anak anak, membuat dirinya tentram dan bahagia. Bahkan, membuatnya semakin semangat untuk bekerja keras tanpa tapi bisa membagi waktu, karena yang diperjuangkan oleh sang suami, mendatangkan banyak kemaslahatan. 
              Isteri yang juga sebagai ibu, merasakan hal yang sama. Dia tak merasa sia sia mesti setiap hari sangat kehabisan waktu untuk mengurus dan merawat rumah, mengurus anak dan melayani berbagai kebutuhan suami> Sang ibu merasakan hal itu, karena ia juga melihat dan sekaligus merasakan, betapa hebatnya sang suami dalam bekerja keras, dan hasilnya dengan ikhlas diserahkan kepada isteri dan sang suami hanya meminta, agar sang isteri yang juga dipercaya untuk mengelola uang sepenuhnya, dapat mengatur dengan baik agar semua kebutuhan yang paling primair cukup dan akan bersyukur ternyata ada lebih untuk ditabung.
             Sang anak yang merasakan sudah mendapat perhatian dan kasih sayang dalam arti sesungguhnya, tentu tidak akan bertindak macam macam. Bahkan, dia tak akan tertarik untuk minta ini dan itu, karena tahu, mana kebutuhan yang penting untuk dibeli dan mana kebutuhan yang hanya membuang buang uang dan malah berdampak negatif. Sang anak akan menyeleksi dirinya sendiri dan akan memilih lebih baik habiskan waktu buat belajar dan ibadah, timbang menghabiskan waktu untuk main game atau ngetrek di jalan raya. Lebih baik dia tak menggunakan sepeda motor karena usia belum cukup, timbang memakai motor hanya untuk bergaya dan akhirnya mendapat kecelakaan saat meluncur di jalan raya.
            Kalau saja ayah, ibu dan anak, tidak saling memelintir arti dan makna kasih sayang, tentu, tak akan ada malapetaka yang diakibatkan oleh tindakan yang salah kaprah. Kalau saja orangtua tidak mengijinkan anaknya yang belum cukup umur bersepeda motor atau mobil, tentu kecelakaan yang sangat tak diharapkan tidak menimpa para anak anak remaja. 
             Maukah para penghuni rumah tangga memilih lebih baik meraih berkah timbang keliru menerapkan kasih sayang, dan akibatnya hanya memetik buah bernama petaka?

0 Response to "JANGAN PELINTIR ARTI KASIH SAYANG"