MENGHAPUS KEBENCIAN

JIKA membenci itu indah, yang paling cepat lenyap tak hanya keharmonisan. Persatuan dan persaudaraan juga tersingkir dengan sendirinya. Begitu pun dengan kasih sayang, yang juga terhempas seketika dari setiap jiwa. Manakala kasih sayang sudah menjadi sesuatu yang asing, lantas siapakah yang akan peduli pada orang orang papa, siapakah yang akan respek pada sesama anak bangsa ketika di satu tempat terjadi bencana?
Siapa pula yang akan bersimpati dan memberikan empatinya pada kita jika rasa benci tak hanya sekedar bartahta, tapi juga telah menguasai jiwa.

Rasa benci memang melekat di setiap orang. Dan anugerah ini, tentu saja boleh diaplikasikan. Hanya, tidak dengan cara yang salah kaprah. Sebab, saat diaplikasikan dengan cara yang sembrono, maka yang kemudian meluas bukan manfaat yang menguntungkan banyak orang, melainkan merugikan diri sendiri. Mengapa bukan merugikan orang lain yang dibenci ? Tak lain karena orang yang dibenci dan sama sekali tak membenci,jiwanya tak pernah merasa terganggu. Bahkan, yang bersangkutan tak saja tetap merasa enjoi. Tapi juga makin termotivasi untuk melakukan berbagai hal positif, yang tak sekedar bermanfaat bagi dirinya. Melainkan juga berguna dan mengandung banyak manfaat bagi orang lain.
Kenyataan ini, membuat sang pembenci tak pernah merasa tentram. Sebab, yang kemudian dipikirkannya cuma berbagai upaya yang dapat memuaskan dirinya karena sangat yakin, orang yang dibenci akan seperti yang diinginkannya. Nyatanya, justeru yang dibenci terus melenggang dengan santai dan tanpa beban. Bahkan, begitu cepat langkahnya dan dia terus move on. Dia bisa meninggalkan orang orang yang dibencinya sembari terus memetik hasil dari kreativitas dan dedikasinya dalam mengabdi untuk kepentingan orang banyak.
MARI mulai berfikir untuk menghapus rasa benci yang terlanjur melekat dalam jiwa. Caranya, tentu saja sangat mudah. Cukup melaksanakan niat dan janji untuk tidak membenci siapa pun yang sosoknya diakui sebagai seseorang yang mampu melaksanakan amanah dengan baik, dan hasil kerja kerasnya yang penuh loyalitas, diakui oleh orang banyak telah memberi banyak manfaat dan bukan mudarat.
Jika ingin tetap membenci, mulai beralih ke kebencian yang memang patut dan layak dibenci. Seperti benci pada budaya korup, benci budaya pungli, benci pada siapapun yang menjadikan agama sebagai kedok untuk melakukan penipuan dan memperdaya masyarakat demi kepentingan pribadi karena bertujuan memperkaya diri. Benci pada siapa saja yang diberi amanah untuk menjabat tapi jabatannya malah sengaja dimanfaatkan untuk memperkaya diri dan keluarganya, juga kelompoknya.
Percayalah, tidak membenci itu sangat indah.
Membenci pun sama indahnya jika secara khusus ditujukan kepada setiap perbuatan yang melanggar etika, melanggar kesopanan, melanggar dan mencuri hak orang lain.
Ketika kita benci pada prilaku korup, benci pada kemunafikan, benci pada berbagai perbuatan yang merugikan masyarakat dan merugikan negara, maka kebencian seperti itu layak dipertahankan. sedangkan jika sebaliknya, sungguh sangat bijak jika segera menghapus kebencian seperti itu dengan cepat agar leluasa untuk move on guna meraih ketenangan dan kebahagian bersama keluarga serta masyarakat.

Dah jelas berhasil menguak bom panci
eeh malah dibilang cuma pengalihan isu
Begitulah sikap jika berfikir dengan benci
Saat bertutur kepinginnya justeru ke susu

Manusia memang gak ada yang suci
Sebab selalu tersimpan hawa nafsu
eh busyet dah kalo terus membenci
Kapan punya peluang minum susu

Kalau bedanya cuma beberapa inci
Nggak perlu dong dipermasalahkan
Siapa yang dihatinya menyimpan benci
Kebaikan dengan rela bakal meninggalkan   

0 Response to "MENGHAPUS KEBENCIAN"